Aladdin Agama Asli Indonesia Yang Tergusur Di Tanahnya Sendiri | Kang Aladin

Agama Asli Indonesia Yang Tergusur Di Tanahnya Sendiri

Mohon maaf sebelumnya bukan maksud untuk menyebarkan Isu sara, namun sekedar memberi tahu saja akan pengenalan terhadap agama asli yang terdahulu sebelum datangnya Agama-agama yang dibawa oleh bangsa Eropa, Cina dan Bangsa Arab.

Pada dasarnya agama asli Indonesia adalah penganut kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang. Agama Asli Indonesia telah dianut sejak ratusan tahun bahkan ada sebelum Hidu Budha Masuk Ke Indonesia. Ini adalah bukti sejarah bahwa bangsa Indonesia sebelumnya juga memiliki agama yang melekat pada diri mereka.


Namun Sekarang kita tidak perlu merubah pola pikir untuk terus melestarikan agama asli Indonesia, namun ada kalanya sejarah itu tidak bisa kita lupakan dan harus kita kenang dan diceritakan pada cucu kita kelak. 

Mengapa Kita tidak boleh melestarikan agama asli warga Indonesia? dikarenakan pada patokan utama Negara Indonesia telah diatur bahwa agama yang di akui secara syah oleh Negara adalah agama Islam, Kristen, Hindu, Budha dan yang terakhir Kong Hu Chu. Memang ada baiknya jika kita memperhatikan mereka semua, namun tentunya apabila kita ingin melestarikan ingat hanya budaya nya saja bukan agamanya.

Masyarakat Indonesia kini banyak digegerkan dengan kebudayaan yang dilibatkan dalam isu sara, sungguh miris keadaan bangsa ini. Seharusnya kita berpikir bahwa Negara Ini lahir atas dasar Kesatuan Agama, Budaya, dan Keberagaman. Ingat Budaya tidak bisa dipasahkan dari Negara Ini.

Untuk itu mari kita bahas Agama Asli Indonesia Yang Tidak Diakui Pemerintah yang terbentuk oleh kebudayaan

1. Sunda Wiwitan

Sunda Wiwitan merupakan agama kepercayaan orang sunda asli yang memuja kekuatan alam dan arwah nenek moyang. Penganut ajaran agama ini dapat anda temukan di beberapa Lingkup Jawa Barat Dan Banten. Beberapa orang yang masih menganut Sunda Wiwitan Lebak, kanekes, Banten, Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi, Kampung Naga Cirebon, Cigugur dan Kuningan. Penganut Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang sudah sejak lama dan sebelum adanya agama Hindu, kristen dan Islam.
Namun Sayangnya kini agama sunda wiwitan ketika tidak diakui negara tanahnya juga kini tergusur oleh negara. Bukannya melestarikan sebagai Budaya lokal, sekarang mereka tidak punya tempat tinggal. Contohnya yang terjadi pada Sunda Wiwitan Di Cigugur.

2. Kejawen

Merupakan sebuah anutan kepercayaan Masyarakat Jawa Sejak dahulu kala. Mereka sebenarnya menganut agama yang telah diakui oleh negara seperti Islam. Namun mereka enggan meninggalkan adat-adat pribumi dan mencampurkannya dengan agama yang dianutnya itu. Penganut kepercayaan Kejawen ini selalu berkata bahwa kepercayaan yang dianutnya bukan merupakan suatu agama.Meski pada dasarnya ritual-ritual mereka condong pada ciri khas sebuah agama.


Ada empat hal yang harus mereka tuju yakni:
  1. Seorang manusia Jawa harus menjadi rahmat bagi dirinya sendiri
  2. Harus menjadi rahmat bagi keluaga mereka
  3. Menjadi rahmat sesama
  4. Menjadi Rahmat alam semesta
3. Madrais

Merupakan orang yang menganut ajaran agama jawa sunda. Agama seperti ini sering kali kita jumpai di kawasan Kuningan, Jawa Barat. Agam seperti ini sama halnya dengan agama yang dianut sunda wiwitan yakni ajaran buhun meski dalam agama madrais mencampurkannya dengan unsur-unsur jawa. Menurut data sensus terakhir penganut agama ini hanya bersisa tidak lebih dari tiga ribu orang.

Madrais menjalankan ritual-ritual yang beriringan dengan tradisi Sunda. Mereka juga melakukan Seren Taun setelah panen sebagai wujud penghormatan kepada Dewi Sri.

Cukup sekian yang bisa saya sampaikan, Mengapa hanya tiga saja? karena agama ini masih aktif di Indonesia. Sekali lagi saya mohon maaf bukan bermaksud untuk menyiggung suatu kelompok namun saya hanya ingin mengenalkan saja fakta sejarah agama yang berada di Indonesia.

kangaladin

Kang Aladin adalah personal blog, yang dibuat untuk membuat artikel menarik. Berisi tentang info seputar Pendidikan, Sosial, Politik, Olahraga, Pengobatan, Herbal, Budaya, Agama, Wisata dan Teknologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar