Aladdin Pindahnya Jabatan Pindah Pula Program Pendidikannya | Kang Aladin

Pindahnya Jabatan Pindah Pula Program Pendidikannya

Kini siswa-siwi Sekolah makin dibingungkan dengan banyaknya perubahan pola pendidikan di Indonesia. Dimulai dari Ktsp pada tahun 2006 kemudian berubah menjadi Kurikulum 2013 dan di era baru ini ada yang disebut Kurikulum Nasional. Apakah semua berjalan baik? menurut Kang Aladin semuanya belum berjalan dengan baik. Mengapa? karena yang namanya sistem pendidikan harus menyesuaikan dengan karakter bangsa dan wilayah Indonesia. Untuk Itu Kang Aladin akan bahas tentang Pendidikan di Indonesia yang menurut Kang Aladin kurang tepat apabila diterapkan Di Indonesia.

  • Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum pengganti dari kurikulum KTSP pada tahun 2006, yang dikeluarkan kebijakannya oleh Menteri Pendidikan era Bapak Anies Baswedan. Kurikulum ini memiliki penilaian empat aspek yakni aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku. Positifnya dari kurikulum ini adalah menjadikan siswa rajin dalam peningkatan belajar mengajar karena selain aktif, siswa-siswi dianjurkan untuk belajar mandiri, sehingga saat guru menerangkan siswa akan cepat paham dan mengerti. Negatifnya adalah siswa menjadi aktif di sekolah namun kurangnya waktu bersama keluarga. Siswa pulang pukul 14.30, namun  itu juga tersita waktu oleh ekstrakurikuler yang harus mereka laksanakan minimal ada satu kegiatan ekstrakulikuler. Dari situlah siswa pulang ada yang sampai jam 16.30. Bagaimana siswa mau berinteraksi sosial dengan keluarga, teman, kerabat dan lainnya sedangkan waktu istirahat mereka tersita.





Faktor transisi dari kurikulum 2006 ke kurikulum 2013 juga menurut Kang Aladin kurang, seharusnya menerapkan dulu ditaun ajaran baru mulai dari SD. Sehingga anak SD ketika masuk SMP akan terbiasa dengan keadaan seperti itu. Begitu juga ketika selesai SMP masuk Ke SMA/SMK akan tetap nyaman karena sudah terbiasa. Begitulah nasib siswa-siswi di Indonesia terkadang belum juga beradaptasi dengan kurikulum yang lama ketika pergantian jabatan menteri eh tahu-tahunya muncul kebijakan baru. Meskipun pada tahun 2013 dikeluarkan bertahap namun bukan bertahap secara artian mulai nol dari akarnya tapi malah mengganti kurikulum dengan yang baru.


  • Kurikulum Nasional
Wacana pergantian nama dan kebijakan ini muncul ketika pasca digantikannya Bapak Anies Baswedan kepada Bapak Muhadjir Effendy. Ketika kurikulum 2013 masih juga dalam tahap perbaikan, munculah wacana kurikulum nasional. Dimana kebijakan yang kontroversial muncul yakni menerapkan full day school. Hal tersebut menjadi wacana Bapak Muhadjir Effendy dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Diadaptasi dalam pembelajaran pesantren menjadikan kebijakan ini menurutnya akan sangat baik bagi pendidikan indonesia. Namun kebijakan tersebut menuai kritikan mulai dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang menyebutkan bahwa kebikan tersebut melanggar hak anak. Tidak hanya Menteri PPPA tetapi Ketua Umum PBNU mengkritik bahwa kebijakan tersebut akan memperberat siswa dan gurunya itu sendiri, "Padahal, selama ini sistem pendidikan di Indonesia sudah cukup demokratis dengan memandirikan satuan pendidikan untuk mengembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Itu juga sudah berdasarkan kesiapan sekolah atau madrasah masing-masing" ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj.

Tanggapan dari Budayawan sekaligus Bupati Purwakarta Kang Dedi Mulyadi, menurutnya pemeritah hanya memikirkan nasib anak-anak di kota, sehingga tidak memperhatikan bagaimana kondisi Di Kampung. Kan siswa siswi di kampung itu sepulang sekolah banyak yang membantu ibunya bertani, berkebun, mencari ikan.

Bagi Kang  Dedi konsep full day hanya cocok bagi mereka yang tinggal di perkotaan, terutama yang kedua orang tuanya bekerja. Sehingga sekolah akan mejadi tempat yang cocok bagi anak-anak untuk menuntut ilmu sekaligus sarana interaksi dibanding dengan keluyuran karena tidak ada orang tua yang mengawasi di rumah.

"Tapi itu pun harus didukung dengan suasa kelas yang nyaman, taman-taman yang luas, kemudian banyak kegiatan ekstrakulikuler yang mengasikan. Tidak hanya pramuka, paskibra, tapi bisa perkebunan dan peternakan. Sehingga sekolah bisa menjadi tempat bermain mereka,"Ujar Kang Dedi'

Solusi Untuk Pendidikan Di Indonesia

Solusinya menurut Kang Aladin, pemerintah harus menyerahkan kepada kepala sekolah atau dinas pendidikan wilayah tersebut supaya kurikulum bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat siswa tersebut. Jadi kurikulum itu boleh disamakan namun harus melihat kondisi disekitar, jangan samakan lingkunan perkampungan dengan kota karena itu akan membuat siswa-siswi dikampung sulit beradaptasi.

Yang satu lagi seharusnya pemerintah buat yang namanya sistem yang baku seperti Undang-undang. Salahnya sistem sekarang dipegang oleh orang jadi ketika pergantian kepemimpinan ganti pula kebijakannya.

kang aladin

Kang Aladin adalah personal blog, yang dibuat untuk membuat artikel menarik. Berisi tentang info seputar Pendidikan, Sosial, Politik, Olahraga, Pengobatan, Herbal, Budaya, Agama, Wisata dan Teknologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar